Rumusan Kaya, Am I Rich?
Berikut rumusan Robert Kiyosaki. Rumusan itu disebut Wealth Ratio (WR), yang dia tulis di buku Retire Young Retire Rich. Rumusannya sederhana seperti ini :
Wealth Ratio = Penghasilan Pasif / Pengeluaran.
Menurut rumusan tersebut, seseorang baru dapat disebut kaya setelah WR >= 1. Apa maksudnya?
Mari kita bahas secara singkat apa itu Penghasilan Pasif. Penghasilan Pasif (Passive Income) adalah penghasilan yang didapat dengan keterlibatan yang sangat-sangat minimal. Misalnya, seorang penulis mendapatkan royalti dari penjualan bukunya. Sebelumnya saat dia menulis buku maka dia bekerja dengan keras, dengan keterlibatan maksimal. Namun setelah buku tersebut terbit dan laku, maka selama 70 tahun (masa copyright buku) selanjutnya dia berhak menerima royalti tanpa harus bekerja lagi. Contoh lainnya adalah seseorang yang menyewakan kamar kos ke mahasiswa. Setiap bulan (atau tahun) dia mendapat uang sewa tanpa dia mengeluarkan tenaga lagi. Inilah contoh penghasilan pasif. Pada dasarnya semua pendapatan yang diperoleh tanpa kerja langsung dapat disebut pendapatan pasif, seperti misalnya bunga deposito, penghasilan multi-level-marketing dari aktivitas downline, uang pensiun, deviden saham, royalti lagu, pendapatan franchise, dan sebagainya.
Dengan demikian bila seseorang mempunyai Penghasilan Pasif setara dengan Pengeluaran, maka secara definitif dia tidak perlu lagi bekerja. Setiap bulan dia dapat mencukupi kebutuhannya tanpa bekerja. Inilah yang disebut kaya, layaknya raja-raja jaman dahulu yang tidak perlu bekerja mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Mari kita ilustrasikan konsep tersebut dengan contoh Toni dan Joni. Toni berpenghasilan 1 milyar sebulan, sedangkan Joni hanya 5 juta sebulan. Siapa lebih kaya? Kita lihat dulu pengeluarannya. Pengeluaran Toni ternyata 1 milyar 50 ribu rupiah tiap bulan. Ini berarti Toni tekor (minus) 50 ribu setiap bulan. Jelas dia sebenarnya bangkrut. Sebaliknya Joni hanya perlu pengeluaran 4,5 juta sebulan, karena gaya hidup yang sederhana. maka setiap bulan dia masih bisa menabung 500 ribu. Joni lebih kaya dibanding Toni?
Joni sesungguhnya belum kaya. Joni baru ‘berpotensi’ kaya. Mengapa? Mari kita bandingkan Joni dengan Roni. Penghasilan Joni sebagai karyawan perusahaan besar adalah 5 juta sebulan, sedangkan penghasilan Roni yang didapat dari kontrakan kamar untuk para buruh hanyalah 2 juta sebulan. Roni pengangguran, dan kamar-kamar kontrakan itu merupakan warisan dari orang tuanya. Pengeluaran Roni hanya 2 juta sebulan. Siapa lebih kaya?
Jawab : Roni. Mengapa? Karena penghasilan Roni adalah penghasilan pasif (tanpa kerja langsung) sedangkan penghasilan Joni adalah aktif (dengan kerja langsung). Jadi Toni dan Joni berpenghasilan aktif, sedangkan Roni berpenghasilan pasif. Di antara mereka bertiga Roni si pengangguranlah yang paling kaya. Mari kita analisis dengan rumus Rasio Kekayaan (Wealth ratio / WR)
ToniPenghasilan : 1.000.000.000
Pengeluaran : 1.000.050.000Saldo : - 50.000
Potensi makin kaya : negatif
karena tekor setiap bulan
Penghasilan pasif : 0WR Toni = 0/1.000.050.000 = 0
JoniPenghasilan : 5.000.000
Pengeluaran : 4.500.000Saldo : + 500.000
Potensi makin kaya : positif
karena bisa nabung setiap bulan
Penghasilan pasif : 0WR Joni = 0/4.500.000 = 0
RoniPenghasilan : 2.000.000
Pengeluaran : 2.000.000Saldo : 0
Potensi makin kaya : nol
karena tidak ada saldo
Penghasilan pasif : 2.000.000WR Roni = 2.000.000/2.000.000 = 1
Dapat kita lihat bahwa nilai penghasilan yang besar tidak akan menolong seseorang selama pengeluarannya tidak terkendali. Ketika seseorang mampu menabung maka dia berpotensi menjadi kaya. Namun semua itu belum menjadi penting hingga tabungan tersebut berhasil diubah menjadi penghasilan pasif (passive income).
Dengan demikian Roni sudah kaya, namun potensi lebih kaya tidak ada karena tidak punya saldo. Walau begitu penghasilan pasif tidak harus menggunakan modal tabungan, ada yang bisa diciptakan sendiri misalnya membuat lagu dan mendapat royalti. Kondisi Roni dapat berubah ketika pengeluaran bulanan dia meningkat (karena menikah, punya anak, sakit, dsb). Bila pengeluaran menjadi lebih tinggi dari penghasilan pasif maka otomatis Roni berubah status dari kaya (WR >= 1) menjadi miskin (WR < 1).
Joni saat ini belum kaya (WR = 0), namun bila Joni mampu mengubah modal tabungannya menjadi penghasilan pasif, maka dia bisa menjadi kaya. Apabila tabungan yang Joni kumpulkan ternyata gagal diubah ke penghasilan pasif (misalnya kemudian habis hanya untuk membeli barang konsumsi), maka Joni kembali tidak berpeluang kaya.
Jadi ukuran kaya adalah WR seseorang. Kekayaan seseorang terus berubah (naik-turun) bergantung kedisiplinan dia dalam mengusahakan Penghasilan pasif dan mengelola Pengeluaran. Ukuran WR ini sangat penting dalam proses menuju kaya, karena dengan terus memantau ukuran ini kita punya panduan yang jelas untuk bertindak. Saya sendiri mendapat banyak manfaat dengan panduan WR ini. Suatu saat WR saya mencapai 0,4 lalu di saat lain karena kesalahan investasi (baca : pembelajaran, hehe) kembali turun menjadi 0,15 (ngomong-ngomong, bagaimana WR Anda, masih nol ?). Jelas saya belum kaya, tapi saya yakin - selalu opsimis- bahwa menjadi kaya itu sangat realistis dan dapat dilakukan oleh semua orang, tak peduli terlahir kaya atau miskin. Sejarah sudah membuktikan hal itu.




