Tuesday, March 06, 2007

DAMPAK MEDIS SHALAT TAHAJJUD

Artikel YAKES TELKOM

Sholat Tahajjud ternyata tak hanya membuat seseorang yang melakukannya mendapatkan tempat (maqam) terpuji di sisi Allah (Qs Al-Isra:79) tapi juga sangat penting bagi dunia kedokteran. Menurut hasil penelitian Mohammad Sholeh, dosen IAIN Surabaya, salah satu shalat sunah itu bisa membebaskan seseorang dari serangan infeksi dan penyakit kanker.

Tidak percaya? Cobalah Anda rajin-rajin sholat tahajjud. "Jika anda melakukannya secara rutin, benar, khusuk, dan ikhlas, niscaya Anda terbebas dari infeksi dan kanker". Ucap Sholeh. Ayah dua anak itu bukan 'tukang obat' jalanan. Dia melontarkan pernyataanya itu dalam desertasinya yang berjudul 'Pengaruh Sholat tahajjud terhadap peningkatan Perubahan Response Ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Psiko-neuroimunologi" Dengan desertasi itu, Sholeh berhasil meraih gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya, yang dipertahankannya beberapa waktu yang lalu.

Selama ini, menurut Sholeh, tahajjud dinilai hanya merupakan ibadah salat tambahan atau sholat sunah. Padahal jika dilakukan secara kontinu, tepat gerakannya, khusuk dan ikhlas, secara medis sholat itu menumbuhkan respons ketahannan tubuh (imonologi) khususnya pada imonoglobin M, G, A dan limfosit-nya yang berupa persepsi dan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi (coping).

Sholat tahajjud yang dimaksudkan Sholeh bukan sekedar menggugurkan status sholat yang muakkadah (Sunah mendekati wajib). Ia menitikberatkan pada :
1. sisi rutinitas sholat,
2. ketepatan gerakan,
3. kekhusukan, dan
4. keikhlasan.
Selama ini, kata dia, ulama melihat masalah ikhlas ini sebagai persoalan mental psikis. Namun sebetulnya soal ini dapat dibuktikan dengan tekhnologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai misteri,dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol. Parameternya, lanjut Sholeh, bisa diukur dengan kondisi tubuh.

q Pada kondisi normal, jumlah hormon kortisol pada pagi hari normalnya antara 38-690 nmol/liter.
q Sedang pada malam hari-atau setelah pukul 24:00 normalnya antara 69-345 nmol/liter.


"Kalau jumlah hormon kortisolnya normal, bisa diindikasikan orang itu tidak ikhlas karena tertekan. Begitu sebaliknya. Ujarnya seraya menegaskan temuannya ini yang membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama (Islam) semata-mata dogma atau doktrin.

Sholeh mendasarkan temuannya itu melalui satu penelitian terhadap 41 responden sisa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya.Dari 41 siswa itu, hanya 23 yang sanggup bertahan menjalankan sholat tahajjud selama sebulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19 siswa yang bertahan sholat tahjjud selama dua bulan. Sholat dimulai pukul 02-00-3:30 sebanyak 11 rakaat, masing masing dua rakaat empat kali salam plus tiga rakaat. Selanjutnya, hormon kortisol mereka diukur di tiga laboratorium di Surabaya Lab.Paramita, Prodia dan Klinika.
Hasilnya,ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang yang rajin bertahajjud secara ikhlas berbeda jauh dengan orang yang tidak melakukan tahajjud. Mereka yang rajin dan ikhlas bertahajud memiliki ketahanan tubuh dan kemampuan individual untuk menaggulangi masalah-masalah yang dihadapi dengan stabil.

"Jadi sholat tahajjud selain bernilai ibadah, juga sekaligus sarat dengan muatan psikologis yang dapat mempengaruhi kontrol kognisi. Dengan cara memperbaiki persepsi dan motivasi positif dan coping yang efectif, emosi yang positif dapat menghindarkan seseorang dari stress,

"Nah, menurut Sholeh, orang stress itu biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infeksi.

Dengan sholat tahajjud yang dilakukan secara rutin dan disertai perasaan ikhlas serta tidak terpaksa, seseorang akan memiliki respons imun yang baik, yang kemungkinan besar akan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker. Dan, berdasarkan hitungan tekhnik medis menunjukan, sholat tahajjud yang dilakukan seperti itu membuat orang mempunyai ketahanan tubuh yang baik. Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat, anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya. Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita ?
Seorang Doktor di Amerika telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran. Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu ia telah membuka sebuah klinik yang bernama "Pengobatan Melalui Al Qur'an" Kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat didalam Al-Quran. Di antara berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya. Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan,

“terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah.”

Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal. Setelah membuat kajian yang memakan waktu akhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang 5 waktu yang diwajibkan oleh Islam.

Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam "sepenuhnya" karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.

Kesimpulannya:
Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang apalagi bukan yang beragama Islam walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal. Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan secara lebih normal. Maka tidak heranlah timbul bermacam-macam gejala-gejala sosial masyarakat saat ini.

Monday, March 05, 2007

MeninGkaTKaN KebeRuNtunGaN

Bill Gates dari Microsoft beruntung, IBM tidak menyadari betapa hebatnya masa depan komputer pribadi. Karena itu IBM setuju untuk membayar jasa pembuatan sistem operasi MS-DOS sebesar 1 juta dolar, sementara Bill Gates boleh tetap menjualnya ke pihak lain. Sepuluh tahun kemudian Bill Gates menjadi orang terkaya di dunia.
Steve Jobs dari Apple juga beruntung. Para petinggi Xerox tidak tahu bahwa benda bernama ‘mouse’ dan GUI (Graphical User Interface) yang dibuat oleh para jenius Xerox adalah harta karun tak ternilai yang terpendam. Xerox dengan ringan hati memberikannya kepada Apple keberuntungan jutaan dolar dengan lahirnya Macintosh yang menggunakan mouse tersebut.
Demikian pula disampaikan John Beck penulis DoCoMo, Japan’s Wireless Tsunami bahwa menurut para pendiri DoCoMo mereka bisa sukses karena keberuntungan. DoCoMo beruntung karena punya pemimpin visioner Keiji Tachikawa, presiden perusahaan yang tidak sabaran Kouji Ohboshi, anak buah yang punya daya kreasi meluap Keiichi Enoki, juga talenta tinggi Mari Matsunaga. Dalam satu kondisi yang unik mereka mampu melejitkan DoCoMo dari divisi telepon di dalam mobil yang merugi, menjadi perusahaan telpon seluler yang paling berhasil berjualan data melalui layanan i-mode dan FOMA (yang hingga sekarang masih gagal ditiru perusahaan lain di dunia).
Bagaimana mereka bisa beruntung? Mengapa perusahaan seluler sejenis DoCoMO di Amerika maupun Eropa gagal mengambil keuntungan serupa padahal mengeluarkan biaya investasi yang juga sama besar? Jawabnya, kata John Beck, adalah keberuntungan. It’s about luck. DoCoMo beruntung internet belum populer di masyarakat Jepang waktu itu. Beruntung pula sedang terjadi krisis ekonomi sehingga perbankan sangat antusias menyambut sistem pembayaran melalui i-mode. Beruntung juga belum ada standard. Beruntung memilih c-HTML dan bukan WAP sebagai format i-mode. Juga beruntung dengan adanya kartun Bandai di Jepang.
Dan inilah dia, Bandai lah nyawa tak disangka dari i-mode. Sebelumnya para ahli strategi bisnis i-mode menembak sasaran para profesional yang memerlukan layanan perbankan. Layanan ini disambut antusias, namun tidak banyak. Yang justru populer adalah hal remeh yang sebelumnya tak disangka : ringtone dan screensaver. Dan para ahli strategi bisnis DoCoMo segera menerima kenyataan, layanan ideal dan keren buat para profesional itu bukanlah penggerak utama. Justru layanan kelas rakyat yang kurang keren bernama ringtone dan screensaver itu. Lalu Bandai datang dengan tak disangka, mereka punya produk mainan semacam berjudul WonderSwan yang merupakan networking game dan bisa dimainkan lewat internet. WonderSwan inilah killer application seperti halnya spreadsheet VisiCalc di jaman awal munculnya PC. Sejak saat itu Bandai menjadi terdekat i-mode DoCoMo.
Andai DoCoMo lahir di Indonesia, mungkinkah i-mode melejit seperti itu? Andai dia lahir di Eropa, mungkinkah dia bertemu Bandai? Andai dia di Amerika, mungkinkah orang peduli untuk mengakses internet lewat layar supermini di ponsel (sementara sudah terbiasa dengan layar lebar di komputer)? It’s about luck.
Dan ini yang menarik, keberuntungan menempel pada orang! Semua kondisi menguntungkan itu ada di Jepang, tapi kenapa DoCoMo yang berhasil memanfaatkannya? Karena orang-orang yang memegang posisi kunci di DoCoMo mampu segera mengenali peluang keberuntungan itu.
Setiap hari kita semua bertemu peluang. Orang yang hari ini Anda temui mungkin membawa peluang. Bis yang Anda tumpangi, juga membawa peluang. Beras mahal yang terjadi saat ini, juga membawa peluang. Semua kejadian random (yang sebenarnya tidak random karena ada ketentuan takdir Tuhan) menciptakan banyak peluang. Orang-orang tertentu ternyata lebih mampu menarik keuntungan dari peluang itu. Inilah si orang-orang beruntung.
Survey yang dilakukan Jencks dan kawan-kawan dari Educational Policy Research at Harvard di awal tahun 1970 menunjukkan bahwa hanya 12 hingga 15 persen saja orang yang lebih inferior dibanding orang lain. Umumnya setara. Maka, kalau Anda sekarang bekerja, sadarilah bahwa banyak orang yang setara dengan Anda dan tidak seberuntung Anda. Ada faktor ‘luck’ yang menyebabkan Anda diterima, lainnya tidak. Banyak kenyataan, bila ada dua lulusan perguruan tinggi yang sama-sama hebat, yang satu beruntung mendapat tempat kerja yang nyaman, gaji besar, dan penuh dukungan terhadap kebebasan berkreasi, sementara satu yang lainnya mendapat tempat kerja yang sulit, atasan yang sinis, bergaji kecil pula. Padahal mereka itu relatif setara, bahkan bisa jadi orang kedua tadi lebih pintar, lebih tekun, dan lebih hebat. Sayangnya orang ini kurang beruntung!
Meningkatkan keberuntungan
Sekeping uang tergeletak di jalan. Donald Bebek melewati jalan itu. Dia tidak tahu ada uang tergeletak di jalan. Si Untung Bebek melewati jalan yang sama. Tepat dua langkah sebelum uang tersebut dia tak sengaja melihat ke bawah. “Nemu uang!” kata si Untung. Uang yang sama, di jalan yang sama, dengan kondisi yang relatif sama. Dan si Untung yang beruntung. (Donald juga masih beruntung, dia punya pacar yang cantik dan baik bernama Desi bebek. Mungkin si Desi ini yang paling tidak beruntung. Haha)
Orang dengan jenis si Untung ini mungkin memiliki kemampuan seperti halnya Panji, si pawang ular, yang bisa mendeteksi keberadaan seekor ular dari jarak jauh. Namun saya yakin juga dia punya karakter yang menjadikannya beruntung (salah satunya adalah sikapnya yang optimis dan gembira sehingga membuat segalanya tampak menguntungkan, dan jadilah keberuntungan datang betulan kepada dia).
Saya percaya bahwa kita bisa meningkatkan keberuntungan. Dengan kecerdasan aspirasi, kita menjadi peka terhadap semua hal yang membantu terwujudnya impian kita. Dengan kecerdasan spiritual kita yakin bahwa kejadian yang tampak random itu sebenarnya bukanlah random (Tuhan Maha Mengatur), sehingga kita yakin bahwa do’a menjadi penting untuk menarik ‘keberuntungan’, sedekah menjadi penting untuk menarik keberuntungan, berbuat baik juga menjadi penting untuk menarik keberuntungan, dan sebagainya. Dengan kecerdasan power kita menjadi peka terhadap peluang yang bisa dimanfaatkan. Dengan kecerdasan emosi, kita jadi mau untuk menindaklanjuti peluang yang terbuka. Dan kreatifitas daya cipta kecerdasan intelektual membuat kita mampu mengatasi problem-problem yang muncul.
Keberuntungan itu seperti bermain sepakbola. Kita punya tujuan yang jelas, yaitu mencetak gol. Lalu sebagai pemain kita harus terus bergerak mencari posisi yang menguntungkan. Suatu ketika bola –mungkin- akan lewat di depan kita (ini namanya keberuntungan!). Kita tendang, dan… belum gol. Lalu kita berlari-lari lagi mencari posisi, dan menyiasati gerakan lawan. Lalu bola melintas lagi di depan kita. Kita tendang, dan… gol! Jika kita punya cita-cita (aspirasi), punya semangat dan keyakinan (spiritual), punya ketabahan (emosi), punya siasat (power), dan punya kemampuan menendang ala David Beckham (intelektual), maka kondisi lapangan dan permainan saat itu bisa mendatangkan keberuntungan bagi kita. (Selanjutnya kenapa Beckham lebih laris sebagai bintang iklan dibandingkan Figo, dsb, yah itulah keberuntungan dari Yang di Atas, yang ini sih belum bisa dimodelkan.)